Sajen (Cerpen Horor)
Sajen
Cerpen Horor
Oleh: Jaka Palieid
Diterbitkan dalam Antologi Cerpen Horor "The Other World"
Penerbit Mecca Publishing
“Apa? Sajen?” tanya Bob seraya
membelalakan mata. Bob benar-benar shock.
“Iya Bob, makanan yang kamu makan
kemarin itu sajen,” Dul menegaskan. “Buat kasih makan Arwah penasaran yang
sering datang ke Desa Kenari ini,”
Bob semakin panik, keringat mengucur
deras dari keningnya. Sementara Kemot menatap tembok dengan pandangan kosong.
Badannya yang tambun sudah basah dengan keringat
“Semua gara-gara aku, karena sudah
kelaparan dan kehausan akibat perjalanan jauh. Jadi ketika melihat ada pisang
goreng dan kopi tergeletak di atads nampan, aku tak kuasa menahannya,” sesal
Kemot merasa bersalah.
Dul, Bob, dan Kemot adalah mahasiswa
yang sedang KKN di Desa Kenari, sebuah desa di pedalaman Hutan Alas Angkara.
Perjalanan ke Desa itu memang cukup jauh, melewati bukit dan jalan setapak
bersisikan jurang. Kemot yang memang memiliki “daya lapar tingkat Dewa”, tak
bisa menahan diri akibat rasa haus dan lapar yang di deritanya.
Beruntung di tengah perjalan, mereka
menemukan nampan berisi penuh makanan dan juga kopi manis tergeletak di sisi
jalan, tepat 100 meter dari gerbang desa. Spontan Kemot menyerbu makanan itu
tanpa pikir panjang. Ternyata, menurut analisa Dul, makanan itu adalah sesajen yang dipersembahkan untuk arwah
penunggu desa. Dan sekarang, Arwah itu mengHantui mereka.
“Brak!”
“Wush!”
Angin kencang bertiup membuka
jendela kayu yang terhempas menghantam tembok bilik kamar mereka. Ketiga pemuda
itu saling bertatapan dan menelan ludah. Ketakutan.
“Krieet ... krieet ...”
Suara bilik bambu seolah di tekan
oleh sesuatu, angin dingin menusuk tulang, membuat suasana makin mencekam. Dan
sebuah kepala menyembul dari balik jendela, ketiga pemuda itu diam tak
bersuara, wajah mereka pucat ketakutan.
“Assalamualaikum ...” sapa Pak Juned,
dari balik jendela, “lagi pada ngapain ini teh?
Kok kumpul di sini?”
Spontan ketiga pemuda yang sedang
ketakutan tadi mengembuskan napas lega, seraya membalas salam bersamaan.
“Waalaikum salam”
“Ya Allah Pak Juned, bikin kaget
aja,” ujar Bob sambil mengelus dada.
Pak
Juned adalah Kepala Desa di Desa Kenari.
Pak juned menatap ketiga pemuda itu sambil mengerutkan
keningnya, “Kalian kenapa?Kok seperti yang habis lari keliling kampung?” tanya
Pak Juned keheranan melihat ketiga pemuda itu tampak pucat dan berkeringat.
Kemot menjatuhkan bokongnya di kasur
seraya berkata, “Kami habis dikejar Hantu Pak,” Kemot mengusap peluh di
keningnya. “Kami kira, bapak Hantu yang tadi mengejar kami,” lanjutnya.
“Sembarangan, memangnya nya saya
seseram Hantu?” Pak Juned tersenyum.
“Enggak
Pak, lebih seram lagi dari Hantu hahaha ...” Dul tertawa lepas, disambut tawa
yang lainnya. Pak Juned ikut tertawa. Pak Juned masuk ke dalam kamar, dan
kemudian keempat orang itu pun duduk bersama . “Memang Hantu seperti apa yang
kalian temui?” tanya Pak Juned sambil bersandar ke dinding.
“Seram pak,” Ujar Bob sambil meneguk
air putih, “Penampakannya memakai pakaian putih yang diikat ...” Bob berhenti
sejenak menelan ludah, “Seperti pocong.”
“Iya pak, tapi kepalanya tidak
ditutupi, rambutnya gimbal, panjang, berantakan.” Dul menambahkan, sembari gemetar
membayangkan keseraman yang mereka baru rasakan.
“Wajahnya putih seperti tak
berdarah, seringainya mengerikan, dengan gigi kuning yang tajam, di sela
pipinya seperti ada....” Kemot ragu melanjutkan ucapannya.
“Seperti ada bekas darah yang
membentuk goresan panjang, hiii...” lanjut Kemot sambil bergidik ketakutan.
Pak Juned mengerutkan keningnya, “Wajah putih,
menyeringai, ada goresan merah di pipinya,” Pak Juned seolah berpikir keras.
“Itu bukannya Joker musuhnya Batman ya?” Pak Juned menyimpulkan.
“Plak...” ketiga pemuda yang sedang ketakutan itu spontan
menepok kening mereka masing-masing. Pak Juned tertawa melihat ulah ketiganya.
“Lah kan memang jadi mirip Joker ya? Yang filmnya sedang viral,” lanjut Pak Juned.
“Bukan Joker pak Juneeeeed!” Kemot kesal.
“Joker mah badut, rambutnya hijau pak Juneeed!” lanjut
Dul
“Lagian Joker pakai jas ungu, ini pakai kain kafan,
hadeuuh...” Bob merasa jengkel.
Pak Juned malah tertawa terpingkal-pingkal.
“Lagian kalian ini aneh-aneh aja, mana ada Hantu di
kampung ini,” Pak Juned meyakinkan.
“Ada pak, ini semua gara-gara Sesajen yang Kemot makan.”
Tegas Dul
“Sajen?” Pak Juned tampak penasaran.
“Iya Pak, Sajen di gerbang kampung, Kemot memakannya
karena kelaparan dan kehausan saat berjalan ke Desa Kenari ini,” imbuh Bob.
“Jadi kamu memakan sajen itu kemot?” Pak Juned menatap
tajam ke arah Kemot.
Kemot merasa ketakutan, “Iya Pak, maaf...” jawabnya
tertunduk.
Pak Juned bangkit dari duduknya dan berjalan di tengah
ruangan.
“Kalian harusnya menaati peraturan yang ada di Desa ini
anak-anak,” ucapnya sambil menghela napas. “Ada beberapa hal yang boleh dan
tidak boleh ketika kita masuk ke wilayah orang lain. Dan itu sudah menjadi
aturan baku,” Pak Juned menatap ketiga pemuda itu dalam-dalam.
Bob, Dul, dan Kemot tertunduk. Mereka merasa bersalah.
“Iya pak, saya minta maaf, harusnya saya menahan diri
saya untuk tidak memakan sesajen itu,” Kemot berucap lirih. “Seandainya saya
sedikit bersabar, padahal tinggal 100 meter lagi masuk ke desa, duuh ...” Kemot
menutup wajahnya. Menyesal kenapa akal sehatnya terkalahkan oleh sensasi lapar
yang menggerogoti perutnya. Mungkin memang cacing-cacing di perutnya tak bisa
kompromi, namun akal sehatnya harusnya bisa berpikir jernih.
“Jadi bagaiman ini Pak? Hantu itu mengejar kami,” Bob
ketakutan.
“Kemarin saja ketika saya sedang di teras mendengarkan
musik menggunakan headset ...” Bob
menelan ludah, masih terbayang kengerian yang dia alami kemarind an hari ini.
“Hantu itu datang di sebelah saya, saya pikir itu Dul,
saya ajaklah dia mendengarkan musik bersama-sama, tapi waktu saya mau
memasangkan headset ke telinga Dul,
dan berbalik menghadapnya, ternyata tepat di depan saya bukan wajah Dul, tapi
wajah Hantu itu hiiii....” Bob menutup wajahnya.
“Seram Pak, tatapannya mengerikan, seringainya seperti
Iblis yang ingin memangsa saya,” lanjut Bob.
“Iya Pak, jadi bagaimana nasib kita?” Tanya Dul seraya
menguncang lengan Pak Juned yang menatap ke depan. Terpaku, seolah pikirannya
terbang jauh. Kemot meringkuk memeluk selimut. Dia yang merasa paling
ketakutan. Kemarin Hantu itu menemuinya di toilet saat ia sedang buang air
kecil, membuatnya berlari ketakutan setengah mati sampai air seninya membasahi
semua celananya.
Pak Juned terpaku. Diam.
Semua terdiam sejuta bahasa. Angin berembus melalui
jendela kamar yang terbuka. Suara hewan malam berbunyi bersautan. Lolongan
Anjing terdengar sayup di kejauhan. Bulan bersembunyi di balik awan kelam
menghitam.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar. Memecah hening
yang panjang.
“Srek ... srek ... srek...” suaranya seperti kain yang diseret.
“Krieet ...” pintu kamar terbuka, spontan semua mata
tertuju ke sana.
Tampak sesosok tubuh berdiri di pintu, masuk perlahan ke
dalam kamar. Sosok berbalut kain putih lusuh compang-camping, kepalanya
tertunduk ke depan, membuat rambut gimbal panjangnya menutupi sebagian wajahnya
yang putih. Hanya seringai menyeramkan tang terlihat. Menunjukkan deretan
giginya yang kuning, seringai yang menakutkan.
“Hantuuuu...!” Seru Bob, Dul dan Kemot berbarengan.
Pak Juned melompat sigap, berlari ke luar kamar,
sementara ketiga pemuda tadi hanya bisa melongo ketakutan, berpelukan di atas
tempat tidur.
“Pak juneeet...!” teriakan Bob tak dihiraukan.
“Aduh, kenapa si bapak malah kabur, gimana ini?” Kemot
ketakutan, suaranya bergetar.
“Dul, bacakan doa apa kek
gitu, kamu kan anak ROHIS” Kemot mengguncang-guncang tubuh Dul yang komat-kamit
sedari tadi.
“Ini juga lagi dibacakan doa, tapi Hantunya gak mau pergi!” Dul mulai panik
“Kamu banyak dosa sih Dul, segala pacaran sama Bu Rukmini,
dosen kita!” Bob ikut bicara.
“Itu hoax Bob, masa anak ROHIS pacaran, Bu Rukmini aja
yang seneng sama aku, namanya juga perawan tua,” kilah Dul, “Ini kenapa jadi
ngomongin orang sih, bantuin doa dong!” umpat Dul kesal.
“Aduh Dul, aku mau baca apaan?, Iqro aja gak tamat,” Bob kesal sendiri, sementara Kemot
sudah tidak berani menatap ke depan. Hantu itu makin dekat dan mendekat.
Ketiga pemuda semakin ketakutan. Kemot
bersembunyi dibalik pundak Bob, sementar Bob memegang erat bahu Dul. Dul
berusaha membaca apa saja yang dia hapal. Namun Hantu itu bukannya menghilang,
malah makin dekat.
“Brak!” pintu kamar tiba-tiba di buka dengan kencang,
sebuah ember melayang menghantam kepala si Hantu dibarengi teriakan keras.
“Jupriiii...” lengkingan nyaring dari suara seorang
wanita.
“Bletak!” ember mengenai kepala si Hantu. Sosok wanita
paruh baya berbadan sedikit gempal, memakai daster merangsek ke arah si Hantu
dan menarik telinga nya.
“Aduuh, ampun mak...” si Hantu mengaduh
“Ayo Pulang, ngapain ganggu Mahasiswa yang
KKN?Pulaaaang!” wanita itu menyeret si Hantu keluar kamar sembari menjinjing
ember yang tadi dilemparnya.
Tak lama kemudian Pak Juned masuk ke kamar dengan
tersenyum. Ketiga pemuda yang tadinya ketakutan setengah mati terbengong
keheranan.
“Ada apa ini pak? Kok Hantunya?” Bob tidak bisa
melanjutkan ucapannya, mulutnya menganga sambil menunjuk ke arah pintu.
“Iya, itu tadi Bu Saimah, saya yang panggil ke sini.
Beliau ibunya Jupri, si Hantu yang mengejar kalian,” Pak Juned menjatuhkan
tubuhnya di bangku.
“Sudah duduk dulu nanti saya jelaskan.”
Ketiga pemuda itu pun duduk, rasa takut sudah memudar.
“Jadi, Jupri itu bukan Hantu, dia manusia sama seperti
kita,” papar Pak Juned, “Dia mengalami gangguan jiwa, makanya dipakaikan baju
ketat yang biasa digunakan untuk pasien RSJ.”
Ketiga pemuda itu saling pandang. Bingung.
Akhirnya Pak Juned bercerita, Jupri sangat terobsesi
menjadi sorang Badut Sirkus, namun karena kecelakaan, sirkus dan pasar malam
tempat di bekerja terbakar. Jupri akhirnya stres dan mengalami ganguan jiwa.
Jupri kerap kali menyerang warga. Oleh karena itulah ia dipakaikan pakaian
seperti itu. Jupri diberikan tempat tinggal di luar kampung. Dan biasanya
Ibunya menyiapkan makanan di nampan dekat gerbang masuk desa. Tapi hari itu,
Jupri tidak menemukan makanan kesukaannya, hingga akhirnya kembali masuk ke
desa dan mencari “pencuri” makanannya.
“Nah..., jadi seperti itulah yang sebenarnya. Tidak ada
sesajen untuk makhluk ghaib di desa ini. Karena yang namanya sesajen itu masuk
kategori musrik.” Tutup pak Juned mengakhiri ceritanya.
“Ooo begitu...” Kemot menghela napas lega.
“Alhamdulillah, ternyata bukan Hantu ya? pantas saja
tidak mempan dibacakan ayat Ruqyah” Dul menggaruk dagunya sembari menatap
langit-langit ruangan.
“Ya sudah, yang penting sekarang kalian sudah tenang
kan?” Pak Juned menepuk pundak Kemot, “Besok-besok, jangan asal mengambil
makanan yang memang belum jelas milik siapa. Dosa,” Tegas Pak Juned sambil
tersenyum.
Kemot mengangguk setuju, “Iya Pak”
Semua misteri terpecahkan, ternyata tidak ada Hantu di
Desa Kenari. Hanya ada Jupri yang marah akibat makanannya dicuri orang. Suasana
cair kembali. Dan keempat orang itupun akhirnya berbincang ringan. Tak ada lagi
ketakutan dan kekhawatira,
Tapi tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan
mereka dari atas sebatang pohon besar di pekarangan rumah. Sepasang mata dari
sosok perempuan bergaun putih panjang, dengan rambut terurai panjang. Mata yang
menyala, dengan seringai mengerikan. Kemudian perempuan itu melesat terbang
sambil tertawa melengking.
“Hi ... hi... hi... hi...”
Spontan keempat orang yang sedang bercengkrama itu
melongok ke luar dengan keheranan, sejuta tanya di kepala mereka. Apakah cerita
ini sudah selesai? Atau masih berlanjut?
Hanya penulisnya yang tahu.
--- Selesai---
Bekasi, 16 Oktober 2019
Biodata Penulis
Jaka
Palied adalah “Nama Panggung” dari Erwan Teguh S. Lelaki kelahiran Jakarta 29
September 1981 ini sudah gemar menulis sejak masih duduk di bangku SD. Hobinya
menulis berlanjut sampai kuliah, Sempat membuat Anthologi Puisi Bulan maya 14, dan
Anthologi Cerpen Indilabel. Selain menulis, Om Jaka, saapaan untuk Jaka Palied,
juga senang membuat komik dan pernah beberapa kali mengikuti event komik
nasional. Prestasinya di dunia menulis salah satunya adalah pernah menjuarai
juara ke 2 di lomba Menulis Karya Ilmiah Remaja se Bekasi di tahun 1998. Selain
itu juga sering menulis untuk majlah sekolah dan buletin kampus. Sayangnya
kesibukannya di dunia kerja akhirnya membuatnya berhenti menulis. Dan Pria yang
berpropesi sebagai Pengajar Biologi di sebuah Bimbel di Bekasi ini baru aktif
menulis lagi saat ini. Untuk interaksi dengan penulis, bisa menghubungi nomor
whatsapp di 081310770610 dan IG @jakapalied atau di FB Abdurrahim Erwan.




Comments
Post a Comment