RSH
Oleh Jaka Palied
Diterbitkan Oleh Penerrbit Pena Baswara
dalam Antologi Horor "Ptortal Alam Ghaib"
“Sabar ya Mah, sebentar kagi kita sampai,” ucap Bahar sembari mengenggam erat tangan istrinya.
“Semoga keburu Pah, sudah berasa banget mulesnya,” sahut Marni sembari meringis menahan sakit. Tangan kirinya menggengam erat tangan Bahar, sementara tangan kanan mengusap perutnya yang membesar. Marni sedang hamil tua, dan sudah hampir waktunya melahirkan.
“RSUD kota kan ya Pak?” Sopir Ojol memastikan kembali tujuan nya, sembari sesekali melihat layar Ponselnya, mengikuti arahan GPS.
“Iya Pak,” jawab Bahar singkat
Sopir Ojol mempercepat laju mobilnya, jalanan memang sepi malam itu,“Sebentar lagi pak kalau lihat di GPS, maklum, saya bukan orang sini, jadi kurang tahu jalan pintas, semoga ibu nya masih bisa bertahan,” tegas sang sopir mencoba menenangkan penupangnya.
“Iya Pak, saya juga belum lama di kota ini, jadi belum paham jalan juga,” tukas Bahar.
Pasangan muda ini memang baru saja pindah ke Kota L belum lama ini, Bahar mendapat tugas dari kantornya untuk menetap di L dan mengembangkan anak perusahaannya di kota itu. Besar di Ibu Kota, membuatnya paham betul jalanan ibu kota sampai ke lorong terkecilnya. Tapi ini Mataram, Ia buta sama sekali.
Avansa hitam keluaran tahun 2017 yang ditumpangi Bahar dan Marni berbelok ke kanan dan memasuki jalan raya yang agak gelap. Mobil itupun berhenti tepat di depan sebuah Rumah Sakit besar dengan cat putih yang sedikit pudar. Tepat di gerbangnya ada tulisan timbul besar Rumah Sakit Umum Daerah Kota L.
“Sampai Pak,” ujar sang sopir sembari memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk. Bahar mengeluarkan uang pembayaran Ojol, “Ambil saja Pak kembaliannya,” ucapnya seraya membuka pintu mobil.
“Terimakasih Pak,” sambut sang sopir dengan senyuman, “Semoga persalinannya lancar Pak,” sambung nya.
“Amiin,” Bahar dan Marni menjawab bersamaan.
Jam di tangan Bahar menunjukkan pukul 23.45, waktu yang cukup larut memang untuk melahirkan. Tapi apa daya sang bayi mungkin tak mau menunggu esok. Bahar menuntun Istrinya ke gerbang Rumah Sakit, dan disambut oleh beberapa perawat muda, dua lelaki dan dua perempuan.
“Mari Pak saya bantu,” perawat lelaki yang berbadan kurus membantu Marni menaiki kursi roda. Perawat lelaki lain yang bertubuh agak gemuk mendorong kursi roda.
“Maaf Pak, atas nama Bapak siap, ya?” Suster manis bertanya dengan lembut, ia bertubuh tinggi berkulit putih dan rambut sebatas telinga. Temannya yang satunya berambut panjang sebahu.
“Bahar, dari Kota B,” jawab Bahar.
“Baik Pak, biar ibu kami bawa keruang perawatan, bapak boleh ke meja administrasi,” ujar Suster cantik tadi. Temannya yang berambut panjang menemani Bahar ke meja administrasi.
Seorang betugas bertubuh gemuk, berkacamata tersenyum menyambut Bahar dengan ramah. Ia membaca data yang diserahkan suster pengantar Bahar.
“Pak Bahar, ya?” tanya petugas memastikan, dijawab anggukan Bahar.
“Tanda tangan di sini ya Pak , Ibu nanti akan ada di kamar M, Ruang Melati koridor C,” petugas sodorkan form isian. Bahar menandatangani semua berkas yang disodorkan.
“Pak Bahar?” tanya suara di belakang tubuh Bahar, sebuah tangan menepuk pundak nya. Bahar menengok ke arah datangnya suara. Ternyata sorang lelaki paruh baya berkacamata, mengenakan pakaian dokter yang menyapanya.
“Iya Dokter,” jawab Bahar sedikit gugup.
“Istri Bapak baik-baik saja, tapi sudah hampir pembukaan sepuluh, jadi harus segera masuk ruang persalinan,” Dokter merangkul pundak Bahar dan mengajak nya duduk.
“Bapak tunggu saja di sini, nanti jika sudah beres persalinan akan kami kabari,” begitu tukas dokter Jefri, nama yang tertera pada name tag di dada kirinya.
“Baik Dokter, syukur kalau istri saya baik-baik saja. Tapi persalinannya normal kan ya Dok?” Bahar masih merasa cemas, “bukan Caesar?”
“Iya Pak, normal. Karena kondisi bayinya posisinya sudah bagus, ibunya juga sehat,” jawab dokter Jefri sembari tersenyum ramah.
“Alhamdulillah....” Bahar berucap syukur, “terimakasih Dok, saya agak tenang sekarang,” ujarnya lagi, seraya menyeka keringat di keningnya. Ruangan cukup dingin, hanya saja ketegangan membuat tubuh Bahar berkeringat. Dia kini merasa sedikit lega.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, dokter dan perawat meninggalkan Bahar yang duduk di ruang tunggu. Perasaan tegang, bahagia, bercampur menjadi satu. Bahar merasa cukup tenang, setelah tahu bayi dan istrinya baik-baik saja, dan persalinannya normal.
Bahar menarik napas panjang. Angin malam menerpa tubuhnya, membuatnya merasa mengantuk. Antara sadar dan tidak, perlahan mata Bahar terpejam. Lelah. Baharpun tertidur sudah. Lelap ditiup angin malam.
***
“Pak, bangun Pak,” suara lelaki mengangetkan Bahar, tubuhnya sempat digoyang-goyangkan tadi.
“Istri saya sudah lahiran Dok?” tanya Bahar spontan sambil mengucek matanya.
“Saya Dul pak, bukan Dokter,” jawab sosok pemuda bersetelan klimis dan berjanggut tipis di hadapannya. Bahar baru tersadar. Di hadapannya ada tiga orang pemuda dan seorang pria paruh baya. Selain yang meananyainya tadi ada dua lagi, yang satu bertubuh gemuk, dan satu lagi bertubuh atletis. Semenatara pria paruh baya tadi, mengenakan peci putih dan baju koko berwarna biru muda dengan sorban putih di pundaknya.
“Kalian siapa?” tanya Bahar keheranan.
“Saya Dul, Pak. Dan ini Kemot,” Dul menunjuk ke pemuda gemuk di sampingnya, “Yang itu Bob dan Pak Ustaz Abdullah.”
Bahar memperbaiki posisi duduknya, ia menyalami ketiganya.
“Wah maaf, saya ketiduran. Adik-adik mengantar yang sakit?” tanya Bahar.
Keempat orang di hadapan Bahar saling tatap kebingungan.
“Maaf Pak, kami tadi lewat sini baru habis mengantar anak-anak acara Mabit, kami lihat bapak tidur di depan Rumah Sakit Tua ini,” Dul menjelaskan.
“Kami heran saja, melihat ada orang tidur di depan bekas Rumah Sakit ini Pak, makanya kami bangunkan, khawatir Bapak masuk angin,” Kemot melanjutkan.
Bahar tampak kebingungan dengan penjelasan pemuda di depannya. Dia menggaruk kepanya, “Ini Rumah Sakit Umum, kan? Kok bekas Rumah Sakit sih?” tukasnya.
“Wong masih beroperasi kok,” lanjutnya.
“Astagfirulullah....” keempat orang di hadapan Bahar beristighfar bersamaan.
“Pak, ini Rumah Sakit sudah lama tidak beroperasi,” Bob coba menjelaskan. Ia merangkul Bahar.
“Coba bapak baca istighfar tiga kali, lalu berbalik ya, lihat lagi dengan benar.” Ustaz Abdullah mengusap pundak Bahar.
Bahar yang kebingungan akhirnya menuruti ucapan Ustaz. Setelah beristighfar kemudian Bahar berbalik. Dan....
“Astaghfirullah!” sontak Bahar beristighfar dengan keras. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rumah Sakit megah yang tadi dikunjunginya, berubah menjadi banguna tua yang gelap dan menyeramkan.
“Ya Allah, Istri saya di mana Ustaz?” Bahar menggoyang-goyang tubuh Ustaz Abdulah dengan keras. Panik.
“Tenang Pak, istighfar. Coba jelaskan kejadiannya seperti apa?” Ustaz berusaha menenangkan Bahar. Dul menyodorkan air mineral ke Bahar. Setelah tenang, Bahar bercerita tentang kejadian yang baru dialaminya. Tentang istrinya dan semua proses yang dialaminya.
“Wah, kejadian lagi nih Ustaz,” ucap Kemot.
“Iya nih, dikerjain hantu penunggu Rumah Sakit ini,” lanjut Bob. Dul memberi isyarat kedua temannya untuk diam.
“Ya Allah, gimana ini Ustaz?” Bahar makin panik.
“Tenang Pak, mari kita cari ke dalam,” Ustaz Abdullah menagajak Bahar dan yang lain untuk masuk ke dalam.
“Saya jaga sini ya Ustaz,” Kemot ketakutan.
“Ga apa-apa Mot, tapi nanti kalau mereka lapar, kamu yang dicaplok duluan mau?” ucap Dul. Kemot bergidik ngeri membayangkannya, “Hii, enggak deh, aku masuk aja.”
Mereka berlima memasuki ruang lobi rumah sakit yang gelap. Bob dan kawan-kawan menyalakan senter yang mereka bawa sedari tadi. Tak berapa lama mereka tiba di lobi. Tiba-tiba suara teriakan menggema.
“Kiiiiiiiiiiik....” Suaranya seperti orang tercekik.
“Awas!” seru Dul, mendorong semua orang ke samping. Sebuah kursi roda meluncur ke arah mereka. Di atasnya ada sosok perempuan berbaju putih lusuh dengan rambut panjang terjuntai berantakan. Wajahnya tampak putih, matanya hanya berupa lubang kosong, dengan seringai mengerikan. Kursi roda itu berusaha menabrak mereka.
“Bismillah!” Ustaz Abdullah mengebutkan sorban ke arah hantu berkursi roda tadi.
“AARRGHH...” si Hantu berteriak keras lalu menghilang.
“Wah, pembalap tuh nenek, kursinya pakai NOSH kayaknya,” cletuk Bob sembari menahan ludah. Spontan Kemot mengeplak kepalanya.
“Aduh,” Bob mengaduh kesakitan, “Apaan sih Mot?”
“Aneh-aneh aja, masak pake NOSH segala, emang Fast and Furious,” Gerutu Kemot kesal.
“Brak!”
Pintu salah satu ruangan terbuka, Sosok tinggi kurus berpakaian pasien lusuh tampak keluar dari sana, membawa tiang yang tergantung infus di atasnya. Tubuh kurus itu tampak melayang, rambutnya nyaris tidak ada, wajahnya tertunduk. Tangan yang memagang tiang infus tampak kurus, kulitnya terkelupas, sebagian tulangnya tampak dari luar, tak lagi putih namun mulai kecoklatan.
“Duh, apa lagi ini?” Bob berbisik ketakutan, dipegangnya tangan Kemot erat-erat. Ustaz Abdullah membacakan doa-doa, dibantu Dul. Dul, anak Rohis yang terkenal ahli ruqyah di kampusnya.
Sosok kurus berhenti di hadapan mereka, tiba-tiba kepalanya menoleh ke arah mereka. Tampak wajah menyeramkan, separuh kulit wajahnya terkelupas seperti bekas terbakar. Genangan darah mengering membasahi hingga ke leher, mata kirinya berupa lubang menganga, dengan belatung yang bergeerak-gerak. Mata kanannya melotot hampir copot.
“Pergiiiii!” teriak sosok menyeramkan itu.
“Kamu yang pergi, bismillah!” bentak Ustaz sembari mengebutkan sorbannya.
“AAARRGH....” sosok seram itu berteriak kencang dan menghilang bagai debu.
“Alhamdulillah,” ucap Ustaz Abdullah. “Ayo Pak sebelum terlambat, di mana kamar tempat bersalin Istri bapak yang tadi disebutkan petugas administrasi?” Tanya Ustaz sedikit keras.
“Ka ... kamar M, ruang Melati koridor C, Ustaz,” Bahar menyahut gagap.
Ustaz melihat cepat ke arah denah Rumah Sakit yang masih tertempel di dinding. Mereka bergegas menuju Ruangan yang tadi disebutkan. Melewati beberap lorong gelap mencekam. Menuju ke arah belakang bangunan rumah sakit. Langkah mereka diikuti suara teriakan dan tangisan menyeramkan di kejauhan. Mencekam dan membuat bulu kuduk berdiri.
“Tetap berdzikir, baca Ayat Kursi jangan sampai terhenti!” seru Ustaz Abdullah tegas.
Dan, akhirnya mereka tiba di ruangan yang disebutkan petugas administrasi. Terkejutlah mereka dengan papan nama yang tertera di atas pintu ruangan.
“Kamar Mayat,” ucap Bahar bergetar. Sayup-sayup mereka dengar suara tangis bayi dari dalam ruangan. Ustaz Abdullah segera membuka pintu. Bau anyir dan bisu tercium seketika. Terkejutlah mereka ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
Marni duduk bersandar pada bantal di salah satu tempat tidur. Tampak ia Sedang menggendong bayi yang sudah berpakaian rapih. Marni pun tampak sudah dibersihkan.
“Alhamdulillah kamu datang juga Pah, Anak kita laki-laki.” Senyum merekah di wajah Marni. Bahar langsung memburu memeluk Marni dan bayinya. Bayi mungil yang tampan.
“Kamu ngga apa-apa, kan?” tanya Bahar.
“Enggak Pah, dokter dan susternya baik kok, mereka melayani dengan bagus, anak kita lahir selamat, tapi ari-arinya sudah tidak ada. Katanya sudah dikuburkan” jawab Marni.
“Kita harus keluar sekarang Mah!” pinta Bahar, Bob mendorong kursi roda ke arah Marni. Ustaz Abdullah mendekati Bahar, “Istrimu harus diruqyah, supaya sadar. Dalam pengelihatannya, ini masih Rumah Sakit biasa, biarkan seperti itu dulu,” begitu bisik Ustaz Abdullah.
Bahar mengangguk. Mereka bergegas keluar Rumah Sakit. Kokok ayam jantan mulai terdengar. Sayup-sayup azan berkumandang di kejauhan.
“Alhamdulillah, kita sudah di luar,” Kemot berseru senang, mereka sudah jauh di luar Rumah Sakit berhantu itu.
“Ini siapa, Pah?” tanya Marni, Ia baru menyadari ada banyak orang yang mengantarnya keluar Rumah Sakit. “Panjang ceritanya, Mah,” sahut Bahar.
“Pah, bilang terimakasih tuh sama Pak Dokter, mereka ada di depan pintu keluar,” Marni menunjuk ke arah pintu masuk utama gedung Rumah Sakit.
Serentak mereka menoleh ke arah yang ditunjuk Marni. Tampak Dokter dan perawat berbaju putih tersenyum sembari melambaikan tangan. Namun dalam pandangan mereka, kecuali Marni, itu adalah Sosok Tubuh tanpa daging dibalut pakaian Dokter dan perawat usang, dengan mata hampir keluar yang tersenyum menunjukkan deretan seringai seram.
Bekasi, 26 November 2019
Catatan:
Cerita ini diambil dari kisah bekas RSUD berhantu di salah satu kota di Mataram, sedikit dimodifikasi untuk keperluan hiburan, termasuk nama tempat disamarkan menjadi inisial saja. Kebenaran cerita ini masih menjadi perdebatan di dunia maya. Nama tokoh dalam cerita ini adalah fiktip belaka.
Biodata Penulis
Jaka Palied adalah “Nama Panggung” dari Erwan Teguh S. Lelaki kelahiran Jakarta 29 September 1981 ini sudah gemar menulis sejak masih duduk di bangku SD. Hobinya menulis berlanjut sampai kuliah, Sempat membuat Antologi Puisi Bulan maya 14, dan Antologi Cerpen Indilabel. Selain menulis, Om Jaka, saapaan untuk Jaka Palied, juga senang membuat komik dan pernah beberapa kali mengikuti event Komik Nasional. Prestasinya di dunia menulis salah satunya adalah pernah menjuarai juara ke 2 di lomba Menulis Karya Ilmiah Remaja se Bekasi di tahun 1998. Selain itu juga sering menulis untuk majlah sekolah dan buletin kampus. Sayangnya kesibukannya di dunia kerja akhirnya membuatnya berhenti menulis. Dan Pria yang berpropesi sebagai Pengajar Biologi di sebuah Bimbel di Bekasi ini baru aktif menulis lagi saat ini. Untuk interaksi dengan penulis, bisa menghubungi nomor whatsapp di 081310770610 dan IG @jakapalied atau di FB Abdurrahim Erwan.



Wahhhh Om Jaka suka horor ya?
ReplyDelete