Di Balik Ikhlas (Cerpen Religi)


Di Balik Ikhlas
Jaka Palied
Cerpen Religi
diterbitkan Oleh Sinar Pena Amala
Antologi Cerpen Tabir Qolbu



Senja mulai berpedar, mentari beranjak ke peraduan perlahan tapi pasti. Nuansa jingga menggores di batas cakrawala. Azan magrib berkumandang nyaring di surau dan masjid-masjid. Tanda hari telah berganti, siang dijamah malam.
Fulan melangkah gontai, peluh masih menetes di sudut keningnya. Baru saja ia menyelesaikan pekerjaan menjadi buruh tani di ladang Tuan Dermawan. Penghasilannya hari itu, cukup untuk membayar hutang ke warung nasi Ibu Sukoki. Hanya tersisa beberapa keping uang perak di tangannya kanannya. Sementara tangan kirinya menggenggam kantung berisi nasi bungkus dan air teh manis pemberian Tuan Dermawan.
Fulan memang berpuasa hari itu, puasa Daud yang sudah hampir sepuluh tahun ia amalkan. Teh manis di kantung itu, baru sedikit ia teguk. Sekadar menghilangkan dahaga dan syarat berbuka saja. Fulan tak mau tertinggal salat berjamaah, maka ia bergegas ke masjid untuk menunaikan salat magrib.
“Alhamdulillah, tunai sudah kewajibanku hari ini. Saatnya memakan bekal dari Tuan Darmawan tadi,” ujarnya sembari tersenyum.
Fulan bergegas ke luar masjid. Hari sudah gelap. Fulan memang biasa masuk masjid saat magrib, dan keluar setelah isya. Ia biasa membaca alquran selepas magrib hingga isya.
Baru saja ia memakai sandalnya, tiba-tiba tada tangan mungil menarik ujung bajunya. Fulan menoleh. Tampak olehnya anak kecil berkulit coklat terbakar matahari, berwajah tirus dan bermata cekung menatapnya.
“Tuan, tolong beri saya makanan. Saya kelaparan,” pinta si bocah dengan memelas.
“Ya Allah, orang tua mu di mana nak?” tanya Fulan.
“Saya yatim piatu tuan, saya tinggal di gubuk belakang masjid,” Jawab si anak.
Fulan berjongkok di hadapan si anak. Ditatapnya lekat-lekat anak itu. Usianya tak lebih dari delapan tahun, pikir Fulan. “Kamu tinggal sendirian?” tanya Fulan.
Si Bocah mengangguk, “Aku bekerja membantu membersihkan masjid ini tuan,” si Bocah menatap Fulan. “Alhamdulillah, hari ini aku mendapat upah yang lumayan besar,” lanjutnya.
“Lantas, kenapa kamu tak belikan makanan?” tanya Fulan. “Hari ini aku berpuasa tuan,” si Bocah menjaruhkan diri, duduk di tangga masjid. Fulan ikut duduk di sampingnya. “Ketika aku ingin membeli makan untuk berbuka, seorang pengemis tua tampak sedang meminta di jalan raya sana,” Lanjut si Bocah sembari menunjuk ke arah pasar.
“Aku kasihan melihatnya, tak ada satupu orang yang mempedulikan rintihannya,” ucap si bocah sembari tertunduk. “Jadi, uang penghasilanku hari ini, aku sedekahkan kepadanya,” ucapnya lirih.
Tiba-tiba ia menatap Fulan, “Astaghfirullah, harusnya aku tidak boleh menceritakan kebaikan kepada orang lain, nanti Allah tidak mencatatnya sebagai kebaikan, malahan bisa jadi bencana buat aku, karena dianggap ria,” si Bocah tampak ketakutan. Wajahnya pucat. Fulan sangat takjub dengan ahlak bocah ini. Diuasapnya kepala si bocah sembari berkata, “Insya Allah amal mu di terima,” ucapnya.
Fulan mengeluarkan kantung berisi makanan dari Tuan Dermawan. Diserahkannya kantung itu ke si Bocah. “Ini, ada sedikit makanan dan minuman,” ucap Fulan. Kemudian di keluarkannya sisa uang upah bekerjanya hari itu. “Dan ini, sedikit uang untuk besok kamu sarapan,” ujarnya sambil tersenyum.
“Alhamdulillah ..., tuan baik sekali,” seru si Bocah girang.
“Allah Yang Maha Baik, sebab Allah yang mengantarkan rejeki untuk kamu melalui aku, sehingga akupun bisa memperoleh manfaat pahala darinya,” ucap Fulan sambil tersenyum.
“Semoga Allah selalu memberikan keberkahan untuk Tuan, dan semoga Allah menjaga Tuan dari kejahatan Setan yang merusak hati manusia. Allah adalah sebaik-baik penjaga dan pelindung,” Bocah itu mendoakan Fulan dengan doa yang tulus ikhlas. “Amiin,” jawab Fulan sembari tersenyum.
Setelah berpamitan, si Bocah bergegas pergi, meninggalkan Fulan dengan senyum masih menghiasi wajahnya. Fulan bergegas menuju ke rumahnya, har sudah kian larut.
***
Fulan merebahkan diri di tumpukan jerami kering, satu-satunya alas tidur yang ia miliki di rumah berdiding pelepah kurma itu. Diselimutinya tubuhnya dengan sorban yang sudah usang. Udara malam itu memang teras dingin menusuk tulang. Fulan kedinginan, rasa lapar mengerayangi perutnya sedari tadi. Dinginnya malam menambah rasa lapar itu kian terasa. Hari ini memang pekerjaannya memakan banyak tenaga, apalgi ia berpuasa dan hanya berbuka dengan seteguk air.
“Ya Allah, lapar sekali rasanya.” Fulan terbangun.
“Malam sudah larut, warung Bu Sukoki pasti sudah tutup,” ucapnya lirih. “Dimana aku bisa berhutang makanan di malam selarut ini?” Fulan merenung.
Diambilnya sorban, kemudian di selimutkan ke tubuhnya. Fulan keluar dari rumahnya dan disambut embusan angin yang bertiup kencang. Dingin.
Bergegas Fulan berjalan menuju kota. Suasana tampak gelap gulita. Lentera-lentera dalam rumah sudah dimatikan, kota tampak hening seperti tak ada kehidupan. Hanya hewan malam yang bernyanyi saling bersahutan. Rembulan bersembunyi di balik awan. Fulan makin merasa kelaparan. Langkahnya mulai gontai. Angin yang berhembus kencang, mempermainkan sorban yang menjadi selimutnya.
Langkahnya terhenti, tepat di depan sebuah rumah yang lampunya masih menyala. Fulan menatap sejenak ke rumah itu. Tanpa pikir panjang ia langsung menuju rumah itu. Rumahnya cukup besar, dindingnya dari tanah liat dan tampak rapih. Pintunya dari kayu yang berukir. Sepertinya pemiliknya adalah orang kaya. ‘Semoga pemiliknya dermawan dan mau meberi aku sedikit makanan,’ begitu pikir Fulan.
“Assalamualaikum ...,” Fulan mengucap salam sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
“Assalamualaikum ...,” Fulan mengucap salam lagi untuk kedua kalinya. Tetap hening.
“Assalamualaikum ...,” Salam ketiga agak kencang, tanpa sengaja pintunya terdorong. Pintu terbuka, namun tetap tak ada jawaban.
Fulan terkejut, ternyata pintunya tidak dikunci. Ia penasaran dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Terkejut ia melihat di dalam rumah itu. Rumah mewah itu banyak sekali barang-barang indah terbuat dari emas. keramik mahal dan hiasan dindingnya berlapis emas. Fulan memandang sekeliling denga takjub. Sebuah bisikan jahat menyapa telinganya, “Kalau aku ambil salah satu hiasan ini, pemiliknya pasti tidak menyadari, dan jika aku jual, uangnya bisa cukup untuk makan lebih dari sebulan,” begitu pikiran jahanya bicara.
“Astagfirullah, tidak! Aku ke sini bukan untuk mencuri, hanya untuk mencari makanan,” Bantah pikiran baik di kepala Fulan. Ia bergegas masuk ke dalam rumah lebih jauh. Tampak olehnya di meja makan, hidangan yang mewah sudah tersedia. Ada nasi, lauk pauk berupa daging, sayuran, komplit di atas meja.
“Wah, banyak sekali makanan ini ...,” pikirnya. Dia menyentuh daging di hadapannya. Dingin.
“Kalau aku makan, pasti yang punya tidak keberatan, sayang makanan sebanyak ini dibiarkan sampai dingin begini,” pikiran jahat mulai menyapanya lagi.
“Plak!” Fulan menampar pipinya sendiri. Berusaha melawan godaan itu. “Aku  bukan pencuri, makanan ini tidak halal bagiku, sebelum meminta ijin kepada pemiliknya,” begitu bantah pikiran baiknya.
Fulan memandang sekeliling, tampak olehnya sebuah pintu. Sepertinya pintu kamar. Fulan bergegas ke arah pintu itu. Berharap bertemu pemilik rumah, meminta maaf karena masuk ke rumahnya, dan memohon ijin untuk meminta makanannya.
Fulan menyingkap tirai penutup pintu kamar. Tampak olehnya tempat tidur besar dan berukir indah di dalamnya. Kamar mewah dengan segala hiasan dindingnya yang tebuat dari emas. Fulan menghampiri tempat tidur itu.
Terperanjat ia, mendapati sesosok wanita cantik tertidur pulas di atas tempat tidur itu. Kulitnya putih halus, dengan rambut panjang yang terawat. Berpakain sutra tipis berwarna biru. Perempuan itu bergerak, memindahkan posisi tidurnya. Tanpa sadar menyebabkan sebagian auratnya tersingkap. Selimut penutup kakinya jatuh ke lantai.
Fulan menelan liurnya, dadanya sesak, nafasnya mendadak tak beraturan. Birahinya memuncak. Pikiran jahat bergentayangan di otaknya. Fulan berusaha keras melawannya. Pikiran jahat memaksanya untuk berbuat buruk terhadap perempuan di hadapannya. Fulan melakukan perlawanan keras, antara gejolak di dada dan akal sehat serta keimanannya yang teruji.
Fulan memalingkan wajahnya, dia berlari keluar rumah semabri menutup wajahnya. Tanpa sadar sorbannya tersangkut di tepi meja makan, namun Fulan tak perduli, ditariknya sorban itu hingga lepas dari meja.  Fulan menangis meratapi dirinya sendiri.
Fulan memasuki masjid. Diambilnya air wudu, kemudian ia berdiri melaksanakan salat dua rakaat. Menangis ia dalam salatnya, tersungkur di sujud terakhir. Memohon ampun atas keceroboan dirinya. Rasa laparnya telah sirna, dingin malam tak lagi membuatnya mengigil. Di hadapannya seolah tampak penjaga pintu Neraka menyapanya. Fulan menangis. Bertaubat kepada Tuhannya. Fulan meratapi dirinya yang telah berdosa.
Kokok ayam jantan menbangunkan Fulan. Ia tertidur selepas salat malm tadi, bergegas ia perbarui wudunya, waktu subuh sebentar lagi tiba. Berdiri ia bersama jamaah salat lainnya. Kusyu mendengarkan bacaan imam. Mengikuti salat subuh dengan penuh konsentrasi, berharap Allah mengampuni dosanya.
Lepas subuh, imam salat mengumunkan hari itu ada kajian subuh. Fulan tak berpindah dari duduknya. Dia ingin menyucikan hatinya dengan mengingat Allah. Diikutinya kajian subuh itu dengan tenang dan khitmat.
Ustaz membahas tentang ikhlas, dimana setiap keikhlasan akan dibalas pahala oleh Allah dengan sepuluh sampai dengan tujuh ratus kebaikan. Fulan masih terbayang akan dosanya. Fulan berharap, amal sedekahnya untuk si bocah kemarin, mampu menutupi dosanya malam tadi.
“Siapa di sini yang belum menikah?” Ustaz bertanya pada jamaah, selepas selesai kajian. Hanya ada beberapa jamaah yang bersisa. Termasuk Fulan.
“Saya Ustaz,” Jawab Fulan.  Ia melihat sekeliling. Semua yang ada di sana tidak ada satupun yang mengankat tangan, kecuali dia.
“Barakallah, saudaraku. Ayo mendekat kemari,” Ustaz melambaikan tangan ke arah Fulan. Fulan menggeser posisi duduknya.
“Siapa nama mu saudaraku?” tanya ustaz.
“Fulan bin Abdullah bin Fulan,” jawab Fulan.
“Apakah engkau siap menikah?” tanya ustaz lagi.
Fulan terdiam sesaat, teringat penghasilan dirinya yang hanya buruh tani. Rumah mungilnya yang tak ada apapun kecuali kasur jerami. Fulan ragu. Namun kemudian ia teringat kejadian semalam, terbayang olehnya perempuan yang tanpa sengaja ia lihat malam tadi, rasa bersalah dan ketakutan meyapanya.
“Bagaimana saudaraku?” tanya Ustaz menyadarkan Fulan dari lamunan.
“Insya Allah Ustaz, saya siap!” jawab Fulan.
“Apakah siap hari ini juga?” tanya Ustaz lagi. Fulan terkejut. “Ada seorang wanita, dia  sudah lama dalam kesendirian. Berharap imam yang shalih yang bisa menjaganya di dunia, dan membimbingnya menuju surga. Apakah kamu siap?” lanjut Ustaz.
“Saya ..., saya siap Ustaz!” entah apa yang membuat Fulan tiba-tiba menjawab demikian. Fulan terkejut sendiri dengan jawabannya. Tiba-tiba ia teringat akan maharnya.
“Maharnya bagaimana Ustaz? jujur saya tidak punya apapun untuk dijadikan mahar,” ucap Fulan lirih.
“Apa yang kamu bawa sekarang?” tanya Ustaz.
“Cuma ada sorban lusuh ini saja,” jawab Fulan. Diserahkan sorban itu pada Ustaz, ia baru menyadari, ujung sorbannya ternyata koyak.
Ustaz mengambil sorban itu, kemudian menyerahkan kepada khadimatnya untuk diserahkan kepada calon mempelai di balik tirai. Khadimat Ustaz, kembali dengan tersenyum. Ia mengangguk ke arah ustaz.
“Calon mempelai, menerima mahar mu Fulan,” ucap Ustaz sambil tersenyum. Terkejutlah Fulan mendengarnya, nuansa bening menetes di sudut matanya. “Masya Allah, benarkah ustaz?” tanya Fulan tak percaya. Ustaz mengangguk.
“Apakah kamu tidak ingin melihat calon mempelaimu?” tanya Ustaz. “Tidak Ustaz, biar takdir yang menentukan dia untuk saya, sebab dia sudah rela menerima saya apa adanya, maka sayapu tak ada hak meminta lebih kepadanya,” tegas Fulan.
Dan, akhirnya hari itu juga, Fulan dinikahkan dengan perempuan yang belum pernah ia lihat seblumnya. Siapun yang Allah berikan untuknya, Fulan menerimanya. Ia ikhlas. Sebab Allah sudah terlalu baik memberikan kesempatan dia untuk bertaubat, dan menikah tanpa sulit. Pernikahan itu sederhana, namun luar biasa, sebab dihadiri oleh banyak Ulama dan Ustaz di kota itu. Mereka mendoakan keberkahan untuk Fulan.
Selesai acara walimah, Fulan diantarkan ke rumah mempelai wanita. Terkejutlah ia, ternyata rumah yang malam tadi dimasukinya. Perasaan bersalah dan ketakutan kembali menyapanya. Dimasukinya pintu ruamh dengan perlahan. Pengantar hanya sampai depan pagar saja, sementara Fulan sendiri yang masuk ke dalam.
“Assalamualaikum ...,” Fulan mengucapkan salanm. Lirih, suaranya sedikit bergetar.
‘Waalaikum salam,” jawab suara perempuan yang terdengar merdu dari dalam. “Masuk Bang, saya sudah menunggu abang,” lanjut wanita di dalam ruangan.
Fulan memasuki pintu rumah. Tampak olehnya wanita cantik yang semalam ia lihat. Kecantikannya bertambah luar biasa, sebab ia mendandani dirinya dengan dandanan yang rapih, dan menarik. Wanita itu menyalami Fulan dan mencium tangannya, kemudian mengajaknya duduk. Fulan masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Istrinya sungguh cantik dan berahlak baik.
“Abang pasti heran, kenapa saya menerima abang begitu saja,” ucap Istrinya memecah keheningan. Fulan mengangguk.
“Saya Fulanah binti Mahmud Alamsyah, saya pewaris usaha tembikar di pasar kota,” katanya memperkenalkan diri.
“Adik orang berada, kenapa adik mau menerima si papa seperti abang?” tanya Fulan.
“Abang memang papa harta, tapi abang punya hati mulia,” jawaban indah yang menyejukkan.
“Dari mana adik tahu abang berhati mulia?, abang hanya pendosa saja,” ucap Fulan tertunduk malu.
Fulanah menunjukkan potongan sorban milik Fulan. Terkejutlah ia, takut, malu bercampur jadi satu. Fulanah menenangkan Fulan. Dia menjelaskan, bahwa semalam dia sangat lelah, sampai tertidur tanpa mengunci pintu. Makanan yang disiapkan untuknya pun tak sempat dimakan. Fulanah terkejut, ketika terbangun mendapati pintu rumah sedikit terbuka, namun tak ada satupun barang yang hilang. Bahkan makanan yang di meja makan, dan dirinya pun tak tersentuh. Fulanah kemudian menemukan sobekan sorban di sudut meja makan. Fulanah bersyukur, sebab orang yang masuk rumahnya, pasti orang salih, jika orang jahat yang masuk, pasti habislah semua barng berharganya. Termasuk dirinya.  Maka Fulanah berniat menikahi orang itu. Ia meminta dengan sangat kepada Allah untuk dipertemukan. Dan, doanyapun terkabul.
Fulan menangis tersedu. Ia meminta maaf kepada istrinya, karena sudah masuk rumah tanpa ijin. Fulanah memaafkan Fulan, bahkan ia bersyukur sebab Fulanlah yang masuk rumahnya, bukan orang lain.
Inilah buah dari keikhlasan dan kesabaran Fulan menghadapi ujian Allah. Karena ikhlas tidak makan hanya karena untuk sedekah, dan bersabar dengan ujian, maka apa-apa yang seharusnya haram jika ia ambil malam itu, kemudian menjadi halal di keesokan harinya. Fulan dan Fulanah, akhirnya hidup bahagia selamanya.

Biodata Penulis
Jaka Palied adalah “Nama Panggung” dari Erwan Teguh S. Lelaki kelahiran Jakarta 29 September 1981 ini sudah gemar menulis sejak masih duduk di bangku SD. Hobinya menulis berlanjut sampai kuliah, Sempat membuat Anthologi Puisi Bulan maya 14, dan Antologi Cerpen Indilabel. Selain menulis, Om Jaka, saapaan untuk Jaka Palied, juga senang membuat komik dan pernah beberapa kali mengikuti event komik nasional. Dan Pria yang berpropesi sebagai Pengajar Biologi di sebuah Bimbel di Bekasi ini baru aktif menulis lagi saat ini. Untuk interaksi dengan penulis, bisa menghubungi nomor whatsapp di 081310770610 dan IG @jakapalied atau di FB Abdurrahim Erwan.










Comments

Popular Posts